Kamis, 10 Januari 2013

komentar artikel




Dalam kehidupan memang misteri. Sama juga kita tidak tahu nanti kita mempunyai jumlah anak berapa. Berkaitan dengan ini ada orang yang sudah mengatur jarak kelahiran anaknya bahkan ikut program KB namun kersane pengeran lahir lagi anak. Anak memang karunai Tuhan. Bagi pasangan yang belum punya momongan sangat berharap sekali si buah hati. Segala macam cara ditempuh, bahkan ada yang mengadopsi anak yatim, membeli bayi di rumah sakit dan sebagainya. Sebagai bentuk perwujudan melengkapi isi rumah tangga dengan kehadiran anak.
Kehidupan ada harmoni. Ada senang susah, bahagia sedih, tertawa menangis. Ya, itulah ritme kehidupan. Sama juga halnya berputarnya roda pedati. Kadang di atas, di tengah dan dibawah. Selalu berputar mengikuti arah pemiliknya pergi. Begitu juga kehidupan manusia. Untuk bisa senang, bahagia, tertawa itu pilihan. Begitu juga untuk hidup susah, sedih dan menangis. Beda –dalam hal ini adegan film, sinetron, ludruk, ketoprak. Para pemainnya memang disetting untuk bisa beradegan apa saja sesuai skenario dan arahan sutradara.
Lalu sutradara kehidupan kita itu siapa? Kita sendiri atau orang lain atau bahkan pihak lain? Menjawab ini sebenarnya juga pilihan. Bisa dibuat sulit dan dibuat mudah. Tinggal pilih yang mana. Namun bila ditelusuri lebih lanjut semuanya dikembalikan lagi kepada manusia sebagai pelaku dan yang bertanggungjawab atas diri pribadinya.
Manusia diberi akal, dengan akal manusia bisa memilih baik dan buruk, memilih peluang atau kesulitan, memilih kebahagian atau kesedihan. Ketika dilanda kebahagiaan sudah seharusnya manusia bersyukur. Tidak sembarang makhluk yang diberi anugerah seperti dia. Lalu mendayagunakan potensi dan anugerah yang diterima di jalan kebenaran. Bukan lantas melupakan yang memberi. Tidak lalu melampiaskan dengan hingar bingar lalu lupa diri siapa dirinya. Sama halnya anak SMA setelah kelulusan lalu mencoret-coret bajunya baik laki-laki maupun perempuan lalu berkeliling kota dengan suara knalpot yang memekakkan telinga. 
Bila dirundung duka apa lantas tidak mau beraktivitas? Hanya diam, merenung, menyesali nasib, menyalahkan hidup, menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan? Tidak tinggal yakni selalu mengeluh. Mengeluh atas yang terjadi pada dirinya. Menangis sejadi-jadinya, melampiaskan kemarahan dengan memecahkan dan membanting apa saja yang bisa diraih. Namun apa setelah itu permasalahan lalu selesai? Ada solusi? Bukan malah semuanya serba berantakan.
Bila hal itu terus menerus terjadi bukan penyelesaian yang terjadi namun malah kesengsaraan yang menjadi-jadi. Hidup tidak teratur bin semrawut. Lalu apa yang harus dilakukan?
Ada berbagai macam cara yang dilakukan. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa pada dasarnya manusia hidup adalah berproses. Berproses menjadi manusia. Insan kamil adalah sebuah bentuk harapan. Manusia sempurna. Hanya saja yang juga perlu disadari bahwa untuk mengarah kearah itu tidak serta merta jadi. Seperti bayi yang lahir apa langsung bisa membaca, berdiri dan berlari. Manusia sama pada awal kejadiannya. Orang yang sekarang duduk sebagai presiden, menteri, gubernur, cendikiawan, guru, alim, pengusaha, pejabat dan lainnya pada waktu lahir sama dalam keadaan telanjang, tidak membawa bekal apa-apa. Hanya proses waktu, pendidikan, perawatan orang tua, dan didikan orang tua serta lingkungan yang membentuk pertumbuhan seseorang yang akan membentuk hasil akhir.
Seseorang dalam menyikapi persoalan juga berbeda-beda. Ada dengan tenang, dengan sadar, dengan pesimis dan bisa juga optimis. Terserah memilih  yang mana?
Yang terpenting adalah berusaha husnudzan, berbaik sangka kepada Allah. Allah pastilah mempunyai rencana terbaik bagi kehidupan kita. Hanya kita menyadarinya atau tidak. Bukankah Gusti Allah akan menguji keimanan seseorang? Untuk melihat seberapa jauh tingkat keimanannya. Ada ujian pangkat, kekayaan, kekurangan air, makanaan, buah-buahan. Bahkan anakpun menjadi ujian. Lho, kok bisa. Bisa saja. Karena anak adalah amanah. Terkadang orang tua over protective, sangat menjaga perilaku anaknya. Tanpa disadari anak seperti robot. Begini tidak boleh begitu tidak boleh. Namun membebaskan anak sebebas-bebasnya juga tidak benar. Yang terbaik adalah menjadi sahabat. Namun juga tidak mudah. Diarahkan menuju kebaikan sesuai tuntunan agama hanya disesuaikan dengan perkembagan akal dan jiwanya.
Saya teringat dengan kisah Syaikhona Kholil Bangkalan. Sebagaimana biasa beliau sering mendapat tamu. Oleh karena ulama yang disegani tamunya juga berbagai lapisan masyarakat. Bahkan pejabat penjajah Belandapun juga datang untuk meminta doa barokah, juga orang Tionghoa non muslim. Apalagi orang pribumi sendiri. Banyak sekali dan persoalan yang dihaturkan juga bermacam-macam. Suatu ketika ada tiga orang tamu. Masing-masing mempunyai persoalan sendiri. Satunya belum punya keturunan, keduanya usaha bisnisnya tersendat-sendat bahkan merugi yang ketiga banyak hutangnya. Setelah selesai satu-persatu menyampaikan hajatnya Syaikhona Kholil memberi jawaban yang sama yakni disuruh memperbanyak membaca istighfar. Banyak memohon ampunan atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Bila Allah sudah memberi ampunan maka tidak ada lagi penghalang atau hijab atas doa dan ikhtiar yang kita lakukan. Maka akan diijabahi permohonan kita. Seperti itu pula Kiai Ghozali Kholil Pandanasri memberi wejangan kepada para santri di Pondok Pandanasri Kertosono. Untuk memperbanyak istighfar setiap hari.
Lha, Kanjeng Nabi sendiri yang sudah dijamin masuk surga saja minimal sehari membaca istighfar sebanyak 70 kali. Apalagi kita manusia biasa yang bergelimang  dosa. Seharusnya dan sebaiknya juga memperbanyak bacaan istighfar dengan memahami apa maksudnya.
Menghadapi persoalan memang shock. Apalagi permasalahan yang tidak mengenakkan. Namun ada orang yang melaluinya dengan sabar dan tenang. Persoalan dihadapi dengan sabar. Fastainu bisshobri was sholat. Dihadapi dengan sabar dan tetap menjalankan sholat. Yang jelas persoalan harus dihadapi. Kalau lari persoalan tidak akan selesai. Yang diperlukan solusi. Tindak lanjutnya bagaimana, apa yang perlu dikerjakan, apa yang mesti dilakukan. Aksi apa yang perlu diperbanyak, apa yang dikurangi, apa yang seharusnya dikerjakan untuk smendapatkan solusi dan sebagainya. Bisa saja meminta saran dan pendapat dari teman dekat, guru, kiai kita atau juga jasa konsultan. Atau langsung bisa mengeluh kepada dzat yang menguasai alam semesta. Hanya mengadukan segala persoalan kepadaNya.
Yang jelas bahwa Gusti Allah menurut persangkaan hambaNya. Inda dzanni abdi bi. Maka perlu sangat disadari oleh kita bahwa semuanya memang Allah yang mengatur. Hanya saja kita harus berusaha husnudzan berbaik sangka kepada Allah. Pastilah Allah mempunyai tujuan dan pilihan terbaik kepada kita. Tinggal kita berdoa dan berikhtiar untuk segera menyelesaikan yang membelit. Hanya kepada Allah kita berserah dan kepadaNya pula kita memohon pertolongan. Wallahu a’lam bi al shawab.
Dari artikel di atas sangat jelas bahwasanya kita sebagai umat manusia yang memiliki fikiran hendaknya kita harus selalu mensyukuri nikmat allah, seperti yang ada di artikel tersebut allah selalu ada di lingkungan kita, allah akan selalu mencukupi apa yang kita butuhkan,
Kita lahir di dunia ini suci dari apapun, seperti kertas yang putih dan kosong, semua ada di diri kita masing-masing,bagaimana kita bisa mengatur diri kita dan menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya.
Yang jelas setiap ada masalah yang berat atau ringan hendaknya kita bisa menghadapi permasalahan itu dengan tenang dan sabar serahkan semua kepada allah karena sesungguhnya masalah yang datang pada

Takdir dan Ikhtiar


Rukun iman yang diyakini umat Islam ada 6. Yakni iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan qadha qadar. Qadha menurut bahasa adalah ketetapan. Biasa diartikan menjadi ketetapan Allah sejak zaman azali, suatu zaman sebelum diciptakannya makhluk. Contohnya adanya anak yang lahir pada hari ini misalnya sebenarnya sudah ditetapkan Allah sebelum pernikahan kedua orang tuanya bahkan sebelum bertemu keduanya pertama kali.
Sedang qadar berarti ukuran. Biasa diartikan pelaksanaan atau ukuran dari ketetapan Allah. Bisa dicontohkan anak yang lahir itu berjenis kelamin laki-laki lahir pada hari Kamis, 12 Januari 2012 pukul 12.00 WIB. Orang lebih mudah menyebut takdir untuk qada dan qadar.
Takdir dibagi dua yakni mu’allaq dan mubram. Mu’allaq artinya takdir yang masih bisa diusahakan oleh manusia. Misalnya karena sakit akut dan kronis, pasien di bawa berobat ke China karena rumah sakit di negeri sendiri sudah angkat tangan. Karena mau ikhtiar maka akhirnya jiwa bisa tertolong. Contoh lain karena menghendaki air dingin maka air dimasukkan mesin pendingin jadilah air “nyes”. Disini berlaku sunnatullah. Ada hukum sebab akibat berlaku. Bila mau menanam maka akan panen. Benda yang dilempar ke atas maka akan jatuh ke bawah. Karena berlaku hukum gravitasi bumi. Sedang takdir mubram, takdir atau ketentuan yang manusia tidak bisa ikut campur. Bila sudah waktunya meninggal ya meninggal. Walau bersembunyi di bunker yang tidak mempan dijatuhi bom nuklir sekalipun. Malaikat Izrail pasti akan menemukan dan mencabut nyawanya juga.
Bila melihat uraian di atas kelihatannya manusia hanya seperti wayang yang manut digerakkan apa saja oleh dalang. Namun senyatanya tidak juga. Karena ada peranan akal dan manusia diberi akal untuk kemaslahatan hidupnya. Memang iradah Allah berjalan seiring dengan ikhtiar akal dan perbuatan yang dilakukan manusia sendiri.
Dalam surah ar-Ra’ad diterangkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang selagi orang itu sendiri tidak mau merubahnya. Jadi peranan akal dan perbuatan manusia ikut berpengaruh pada kesuksesan hidup. Ada orang yang sedari kecil hidupnya miskin dan susah. Ketika kuliah sambil bekerja karena harus menghidupi diri dan membayari sekolah adik-adiknya. Karena ayahnya sudah meninggal. Lalu setelah lulus bekerja sebagai karyawan. Dirasakan tidak merubah nasib lalu keluar dan membuat perusahaan properti sendiri dengan modal relasi dan kepercayaan. Akhirnya hidupnya berubah menjadi lebih baik.
Begitu juga seseorang yang utun atau istikomah dalam mencapai target kehidupan bisa juga akan berubah nasibnya. Sebenarnya kemampuannya biasa-biasa saja tidak ada yang bisa dibanggakan. Namun ada kemauan untuk berubah dan aktif di organisasi mahasiswa yang ada. Ketika waktunya selesai ya selesai seperti teman-temannya yang lain. Ketika teman-temannya menikah, membuat rumah, membeli alat transportasi, kuliah lebih lanjut ternyata dikehendaki Allah bisa juga meraihnya. Ternyata peranan ikhtiar, beribadah mahdoh dan ghoiru mahdhoh juga perlu. Bahkan perlu. Dengan tidak melupakan bermuamalah dengan manusia. Karena dalam kehidupan tidak bisa lepas dengan bergaul dan berkomunikasi dengan banyak orang. Bahkan terkadang komunikasi dengan keluarga sendiri saja tidak bisa. Memang untuk menjadi manusia yang sempurna tidak mungkin namun oleh karena komunikasi adalah penting  maka perlu disadari untuk mempraktekkannya dalam kehidupan.
Dalam kehidupan ada namanya sunatullah. Ada hukum sebab akibat. Bila ingin memanen padi seorang petani harus menanam dulu tiga empat bulan sebelumnya. Bila peternak bebek ingin memanen bebek potongnya maka perlu ‘ngopeni’ bebek sejak tiga puluh lima hari sebelumnya. Lalu dengan tekun memelihara hingga waktu yang telah ditentukan. Tentu saja perlu tahu ilmu memberi makan, agar tidak bau, biar tahan penyakit, memindahkan ke tempat lain bila sudah waktunya dan hingga pemasaran. Memang hidup penuh dengan ilmu bantuan. Ilmu untuk hidup. Memang dengan ilmu, hidup manusia menjadi lebih mudah. Maka benar apa yang telah dijanjikan oleh Allah barang siapa yang beriman dan berilmu maka derajatnya akan diangkat oleh Allah. Dan pasti Allah tidak akan mengingkari janjinya. Beda dengan manusia. Manusia bila berjanji terkadang disiasati agar tidak melaksanakan ketentuan itu. Ya, inilah manusia. Dengan seperti ini katanya agar hidup menjadi ramai. Seramai perkara mencuri sandal jepit lalu disidang di meja hijau. Hingga membuat terkenal “Indonesia” di dunia internasional. Sedang perkara besar minta ampun sulitnya mendapatkan keadilan.
Ikhtiar sudah dilakukan lalu juga berubah nasib. Ini bagaimana? Ada beberapa kemungkinan memang itulah jatahnya. Maka dengan senang hati harus diterima sebagai bentuk qanaah. Kedua, perlu dievaluasi lagi. Mungkin masih ada item yang belum dikerjakan dengan sepenuh hati dan sempurna. Maka ini perlu dikerjakan lagi. Ketiga, mungkin ada penghambat internal dan eksternal. Internal mungkin ada janji atau hutang yang belum terbayar. Atau juga dosa pribadi. Maka perlu untuk selekasnya membayar. Juga taubat perlu dikerjakan. Eksternal, bisa saja berlaku dholim kepada orang lain. Maka perlu memohon keridhaannya.
Bila ada masalah dalam proses ikhtiar itu menjadi hal biasa. Karena kalau berani hidup berarti berani menghadapi masalah. Berani menghadapi kenyataan. Dan tidak lari dari masalah. Yang terakhir ini namanya putus asa. Maka perlu solusi dan langkah untuk menghadapinya. Dicarilah win-win solution. Kadar termudah, termurah, resiko teringan agar bisa melanjutkan kehidupan. Dan dirasa bisa menanggung resiko itu.
Kalau tidak tahu solusinya bisa bertanya pada teman, orang yang bisa dipercaya atau juga teman yang pernah menghadapi masalah yang sama. Bila kita berbuat baik insya Allah pasti ada jalan keluarnya.
Yang jelas manusia wajib berusaha, berikhtiar menggapai cita-cita kehidupan. Hanya Allah yang menentukan hasilnya. Untuk itu perlu bekal ilmu dalam proses ikhtiar agar nanti bisa sesuai dengan tahapannya. Tentu saja perlu guru untuk mengarahkan dan menuntun. Wallahu a’lam bi al shawab.
Solichul Hadi,S.Ag.,M.Pd.07:520 komentar
               


Takdir di bagi menjadi dua yakni :
1.     Takdir yang dapat di rubah
2.    Takdir yang tidak dapat di rubah
Di sini takdir yang dapat di rubah yakni dengan cara ihtiar atau bisa di sebut dengan berusaha dan berdoa, misalnya:takdir jodoh, rezeki, dan penyakit.tapi kalau yang yang tidak dapat di rubah seperti takdir kematian bagaimanapun kita berusaha dan berdoa tetap tidak bisa di ruba.
Di dalam kehidupan kita pasti mengalami yang namanya krisis ekonomi atau biyasa di sebut kemiskinan,dari situ merupakan takdir yang dapat di rubah, dengan cara kita bekerja keras dan mau berusa yang lebih lagi berdoa kemiskinan itu akan sirna dengan sendirinya, karena allah akan mengabulkan apa yang kita minta.
Banyak artis awalnya yang hidupnya sederhana, tetapi mereka bekerja keras dan berusaha sehingga kehidupanya bisa berubah. Hendaknya kita dapat meniru orang-orang yang sukses di luar sana, agar kita dapat termotifasi dan bisa berubah lebih baik lagi.

Senin, 16 Januari 2012

Mengambil Hikmah dari Kesuksesan Teman


Pada hari Jum’at saya bertemu dengan teman-teman di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Banyak teman-teman seangkatan 2009 yang sudah selesai ujian proposal disertasi bahkan ada 4 teman yang akan wisuda bulan April mendatang. Ini berarti bisa menempuh dalam waktu 5 semester. menjadi prestasi tersendiri dan akan menjadi sejarah dalam kehidupan mereka. Bagaimana tidak menempuh program doktor memang tidak bisa dibuat main-main. Perlu keseriusan, pengorbanan, dan menahan kehendak untuk sesaat dalam menempuh studi. Godaan di luar studi memang luar biasa. Misalnya ada proyek di luar, tersita waktu dengan bisnis, menyibukkan diri dengan pekerjaan, kegiatan sosial dan lainnya. Sehingga ada yang sampai batas waktu toleransi 14 semester ada yang belum selesai. Ini yang salah siapa?
Bila menurut Pak Imam Suprayogo tidak selesainya studi dikarenakan tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Lho, kok bisa. Bila dipikir memang logis. Para mahasiswa program doktor kebanyakan dosen, lalu ada beberapa guru, sedikit lagi ada pejabat. Mereka ketika mengajar bisa memberi motivasi mahasiswa untuk secepatnya mengerjakan tugas berupa makalah, skripsi dan tugas lainnya. Dan mahasiswa bisa melakukannya dengan baik. Begitu juga guru, bisa memberi support bagi siswa untuk melakukan hal terbaik dalam studinya. Namun kenyataannya kemudian adalah ternyata masih sebatas bisa memberi motivasi dan saran. Belum bisa menggerakkan diri pribadi untuk melakukan hal yang sama. Ini berarti belum bisa memimpin dirinya sendiri untuk ke jalan yang lurus. Tujuan pribadi yang harus segera diselesaikan karena akan datang tugas yang lebih besar sudah ada di depan mata dan menanti kiprah lulusan S3.
Sehabis sholat Jumat di Masjid Ulul Albab IAIN Sunan Ampel Surabaya saya bertemu dengan Pak Ghofar. Ia akan ujian terbuka besok jam 13 WIB. Isteri dan anak-anaknya juga sudah datang untuk memberi support. Memang alangkah bahagianya melihat kepala rumah tangga menjadi teladan karena sudah bisa menempuh dan menyelesaikan studi akademik tertinggi. Bila melihat usia sebenarnya sudah setengah baya. Sebelumnya adalah kabid urais di Kanwil Kemenag Bangka Belitung lalu dimutasi menjadi Kabid Gara Zawa dan Pekapontren. Setelah dilantik, besoknya langsung mengembalikan mobil dinas dan segala inventaris dari jabatannya karena memilih meneruskan kuliah S3. Banyak anak buahnya yang menyayangkan tindakan ini karena semua orang menginginkan jabatan tersebut. Baru lantik langsung dilepas. Namun tekad sudah bulat. Diteruskanlah niatnya.
Ada hikmah dari Pak Ghofar yang bisa diambil agar studi bisa cepat selesai. Tema penelitian yang diambil adalah wakaf dan menelorkan teori wakaf konvensional konsumtif.  Diantaranya:
Uzlah agar bisa fokus. Babel adalah singkatan dari Bangka Belitung. Jarak dengan Surabaya lumayan jauh bila ditempuh sehari pulang pergi. Tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena jauhnya itu sehingga Pak Gofar harus tinggal di Surabaya meninggalkan keluarga dan bisa konsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Dengan segala resiko tiap hari tanpa mengenal lelah dalam kesendirian menyelesaikan segala tugas kuliah.
Hp dimatikan. Selama proses kuliah kerap hp dimatikan untuk menghindari terpecahnya konsentrasi. Akan dibuka bila sehabis sholat subuh. Praktis tidak banyak terganggu oleh komunikasi via hp.
Dilapangan selama 2 bulan. Selebihnya via telepon. Setelah ujian proposal maka berangkat ke obyek penelitian di daerah sendiri, Bangka Belitung selama 2 bulan. Praktis di sana. Setelah di rasa cukup lalu kembali ke Surabaya uzlah lagi. Bila ada data yang kurang tinggal telepon saja.
Jangan matikan laptop. Menulis membutuhkan mood. Bila enggan menulis maka malas untuk memulai menggerakkan tangan untuk menulis. Apalagi harus menyiapkan laptop atau komputer terlebih dahulu. Makanya jangan matikan laptop. Memang kalau laptop kemampuan baterainya terbatas sekitar 6 jam. Namun kalau komputer kuat hingga 24 jam. Dengan keadaan on bila sewaktu-waktu ingin menulis bisa langsung menulis.
Tiap hari menulis sekaligus referensinya. Bisa menulis bila ada yang ditulis. Bila ada  data yang bisa ditulis. Maka harus ada semangat untuk menulis tiap hari. Dipaksa. Ya dipaksa. Memang banyak yang menyadari untuk kuliah S3 memang dipaksa keadaan. Karena kalau guru kuliah S3 harus membiayai diri sendiri. Beda dengan dosen yang ada jatah beasiswa. Yang mana aturan baru dosen harus minimal S2 dan ke depan harus berpendidikan S3. Maka membaca dan menulis adalah pekerjaan harian yang harus dikerjakan dengan penuh semangat untuk bisa cepat selesai.
Sabar menemui promotor. Menemui promotor atau pembimbing penelitian disertasi bukanlah perkara gampang. Juga tidak sulit. Hanya perlu kesabaran untuk melakukannya. Seperti untuk konsultasi harus ke Jakarta kebetulan karena ada tugas lama di sana. Atau hanya bisa ditemui pada hari Sabtu sore atau Ahad pagi. Bisa juga menunggu sampai selesainya promotor memimpin rapat. Pernah dari pagi hingga siang baru kelar. Ada lagi teman yang lain harus menunggu lama karena pembimbing pergi ke luar negeri. Itulah liku-liku perjalanan penelitian.
Selanjutnya saya juga bertemu dengan Pak Munjin, seorang dosen dari UM. Orangnya energik dan kelihatannya dari alumni pondok. Karena sampai sekarang masih mengajar di pondok pesantren. Ujian tertutup sudah dilaksanakan beberapa hari yang lalu dan ujian terbuka akan dilaksanakan pada bulan pebruari sehingga terhitung bisa menyelesaikan program doktor selama 6 semester. Tips yang bisa diambil adalah:
Fokus walau bekerja dan kuliah. Kalau Pak Gofar waktunya praktis untuk kuliah. Tugas rutinnya dilepas dan mengambil tugas belajar. Maka Pak Munjin diberi ijin oleh rektor namun harus tetap mengajar. Maka praktis selama satu semester masih tetap mengajar sebanyak 12 SKS. Disela-sela itu menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Kerja dimanpatkan. Untuk menyederhanakan permasalahan waktu maka waktu ngajar dimanpatkan menjadi tiga hari full. Sisanya digunakan untuk terjun ke lapangan dan menulis laporan.
Waktu bersama keluarga berkurang. Oleh karena ada beban yang berat antara bekerja dan kuliah maka praktis waktu bersantai bersama keluarga berkurang. Acara keluar sering tertunda. Walau anak-anak merengek minta jalan-jalan. Untungnya isteri dan putranya bisa menyadari. Sebagai gantinya waktu tersisa di malam hari bakda magrib hingga jam 21 digunakan untuk menjaga komunikasi dengan keluarga. Komunikasi berkualitas itulah istilah yang dipakai bagi keluarga karier. Putranya tiga, yang sulung sudah mondok di Gresik.
Tahlil tetap jalan sebagai refreshing. Walau menjadi dosen di perguruan tinggi negeri ketika di rumah tidak bisa lepas dengan tetangga dan masyarakat. Sebagai wujud kebersamaan biasanya ada perkumpulan sebagai wadah silaturahim. Diantaranya tahlilan rutin, khataman qur’an, yasinan, doa bersama karena ada tetangga yang punya hajat. Ternyata kegiatan ini dirasakan sebagai refreshing atau penyegaran karena bisa bertemu dengan tetangga, teman sehingga suasana hati dan pikiran bisa cair. Setelah selesai acara bisa langsung pulang dan mengerjakan lagi.
Kost di dekat lokasi penelitian. Konsekwensi dari penelitian adalah sering berkunjung ke lokasi. Bila jauh dengan rumah maka salah satu alternatif adalah tinggal di dekat lokasi. Makanya Pak Munjid kost di dekat pondok al falah selama beberapa waktu sedang di pondok pesantren sidogiri pasuruan masih bisa dijangkau dari malang sehingga cukup dengan sambil jalan.
Istikomah menjadi imam sholat subuh di mushola sebelah rumah. Rentang waktu membaca dan menulis yakni selesai pulang kerja. Atau malam hari hingga pukul 24.00 – 01.00 WIB. Paling sore tidur jam 11.00 WIB bila keadaan sudah lelah. Walau ritme kehidupan seperti itu masih bisa dan mengistikomahkan sholat subuh di mushola sebelah rumah. Tidak hanya itu juga menjadi imam. Wow, betapa berat dan repotnya. Karena pagi adalah waktu yang paling enak untuk tidur apalagi dalam keadaan tubuh yang payah. Sehingga dalam alunan adzan di sindir assholatu khoirun minan naum. Bahwasanya sholat itu lebih baik daripada tidur. Dan memang diakui bahwa sholat subuh berjamaah di masjid adalah perkara sulit namun juga ibadah yang utama. Yang kedua adalah sholat isya’ berjamaah.
Mengurangi tidur. Tidur adalah kebutuhan. Dengan tidur ada keseimbangan antara waktu bekerja dan istirahat. Tidur bisa merehatkan seluruh anggota badan sehingga setelah bangun badan menjadi segar kembali dan siap untuk beraktivitas. Tidur penting dan aktivitas yang berjibun juga penting sebagai bukti kehidupan. Maka jangan lupakan untuk tidur namun jangan tidur terlalu banyak. Karena madhorotnya banyak. Diantaranya menyia-nyiakan waktu dan umur. Sehingga tidak dikatakan sebagai abdun naum, hamba yang suka tidur. Kontrak hidup yang masih ada perlu digunakan dengan sebaik-baiknya.
Mengurangi tugas atau kegiatan yang dirasa kurang penting. Bisa menempuh studi lanjut adalah anugerah sekaligus amanah. Sementara ini yang urgen. Maka tugas lain yang dirasa bisa digantikan, ditunda atau bahkan tidak dilakukan. Tentu saja yang tahu adalah yang bersangkutan. Acara yang tidak ada kaitannya dengan tugas utama hendaknya memang dikurangi. Agar fikirannya tidak terpecah dan bisa fokus. Disadari memang antara urgent dan penting bedanya tipis. Lagi-lagi yang harus didahulukan adalah yang urgen. Karena keadaan mendesak, prioritas dan tidak bisa ditunda lagi.
Sebelum sholat jum’at kebetulan saya juga kebetulan bertemu dengan teman lama. Namanya Musfiqon. Teman waktu di Unesa. Memang orangnya masih muda seusia saya, energik dan kelihatannya sudah menyiapkan ke mana arah yang akan dilalui dan dituju . Terakhir ketemu pertengahan tahun 2010 sudah menjadi pengawas di Kemenag Sidoarjo. Ia bilang mau ujian kualifikasi dan di tahun 2011 sudah selesai wisuda S3 di IAIN Sunan Ampel. Kemarin dia cerita sedikit bahwa sudah mutasi menjadi widyaswara di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Ada keinginan yang ingin diraih adalah menjadi guru besar.
Demikian beberapa contoh orang yang sukses dalam studinya. Semoga bisa diambil manfaatnya. Wallahu a’lam bi al shawab.

Solichul Hadi,S.Ag.,M.Pd.07:550 komentar  

                Dari artikel di atas menurut saya sangat baik sekali karena denga adanya artikel tersebut dapat memotifasi para mahasiswa, kita hidup di dunia ini pasti menginginkan kesuksesan dan hidup bahagia, karena itu merupakan sifat mutlak dari seorang manusia.
          Setelah mengetahui artikel tersebut hati ini rasanya goyah dan memiliki tekat yang bulat agar bisa meraih kesuksesan. Sukses itu sulit kalau hanya di lihat saja, tapi kalau dari hati terdalam memiliki tekat yang bulat dan mau bersungguh-sungguh sukses itu pasti bisa datang dengan sendirinya.
               

Jumat, 06 Januari 2012

Fenomena Natal Bersama

Acara Natal merupakan kegiatan ritual keagamaan bagi pemeluk Nasrani. Dimana-mana dilaksanakan ritual tersebut. Di desa, kota, perkantoran, bahkan di tingkat nasional juga dilaksanakan. Begitu juga hari besar agama di negeri ini juga dilaksanakan. Bahkan ketika hari kerja mendapat penghormatan dari negara sehingga diliburkan.
Karena banyaknya hari libur keagamaan sehingga ada menyebut hal tersebut sebagai bentuk pemborosan dan mengganggu kinerja. Namun bila dicerna dengan hati jernih ini sebagai konsekuensi dari negara Pancasila. Menghormati pemeluk agama untuk melaksanakan kegiatannya tanpa harus dikekang dengan rutinitas kerja. Dalam setahun ada banyak cuti nasional diantaranya memperingati ritual keagamaan yakni dari agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Konghuchu.
Di bumi tercinta mengenai toleransi ditumbuhkembangkan. Karena realitas mengharuskan seperti itu. Indonesia dibentuk dari berbagai latar belakang agama, ras, suku, bahasa daerah, adat dan luasnya wilayah.  Bahkan luas lautan melebihi luas daratan. Melihat realitas yang ada maka persatuan dan kesatuan bangsa adalah hal  yang urgen. Membiarkan pemeluk agama lain untuk melaksanakan ritual agamanya masing-masing tanpa takut diusik dan diganggu. Mungkin hanya di Indonesia untuk perayaan Natal banyak anggota GP Ansor NU  yang turut menjaga gereja. Ini sebenarnya sebagai bukti bahwa para kiai begitu bisa menempatkan diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maqasid syariah dimana al hifd din –menjaga agama diutamakan. Harapannya ada timbal balik sehingga umat agama lain juga bisa berbuat serupa. Tidak berdakwah kepada orang yang sudah beragama. Lalu ada hikmah lain diantaranya terjadi suasana kondusif semua elemen anak bangsa untuk membangun dan mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang berguna. Juga untuk mengejar ketertinggalan dari negara tetangga di segala lini kehidupan. Karena memang sangat disadari suasana kondusiflah semua bisa bekerja dengan tenang, permusuhan, pertengkaran dan percekcokan tidak membawa kemajuan. Malah kemunduran yang didapat.
Ada fenomena menarik yang terjadi di sekitar kita. Diantaranya acara Natalan Bersama. Dengan mengundang anak-anak kecil dengan selembar kertas undangan di daerah mayoritas muslim. Karena dia satu-satunya keluarga non muslim di desa yang kami tempati. Tepatnya dua orang karena kepala keluarga seorang muslim dan giat sholat berjamaah di masjid. Hampir tiap tahun semenjak saya tinggal di desa –tepatnya mulai tahun 2007- dilakukan seperti itu. Saya tidak tahu persis ritual apa yang dilakukan. Biasanya sebelum hari H, orang-orang tertentu dikirimi makanan layaknya acara ‘weweh’ seperti orang desa melakukannya pada hari-hari tertentu. Tidak ada menu makanan yang aneh. Lha, biasanya banyak anak yang datang di acara itu. Karena mengingat bila datang nanti dapat jajan yang banyak macamnya dan itu gratis. Orang tua juga mungkin beranggapan walah anak-anak saja tidak masalah toh tidak menggangu akidah. Toh masih kecil. Mungkin seperti itu dalam benak mereka. Ketika sudah dewasa akan bisa memilah sendiri. Tidak masalah biar mereka bisa mempraktekkan toleransi. Apa bisa segampang itu?
Ada sedikit sejarah ketika awal mula Kanjeng Nabi Muhammad tiba ke Madinah dan membangun masyarakat Islam di sana. Sebelumnya sudah ada pemeluk Nasrani dan Yahudi. Lalu dibuatlah Piagam Madinah. Diantaranya poinnya adalah bebas melaksakan ibadahnya masing-masing dan akan bersama-sama bersatu bila Madinah di serang dari luar. Lalu di jaman Khalifah Umar bin Khattab setelah membebaskan daerah-daerah dari kelaliman dan kekejaman para penguasanya ada bentuk toleransi yang diberikan. Yakni pemimpin dipilih dari daerah tersebut, bebas beragama, bahasa yang dipakai bahasa daerah setempat, pajak atau jizyah tidak seberat sebelumnya. Bila dilihat dari hal tersebut betapa nilai-nilai kemanusian sudah ditancapkan sejak dulu. Jauh sebelum piagam PBB dan HAM ditanda tangani.
Oleh karena Natal adalah ritual keagamaan alangkah baiknya tidak mengundang anak-anak yang tidak seagama untuk datang. Dengan dalih apapun. Bukankah tidak ada pemaksaan agama kepada orang lain. Dan dalam sistem pendidikan bahkan memberikan hak pelajaran agama sesuai dengan agama yang dianut. Kalau berniat memberi sesuatu kepada anak-anak tidak harus pada momen itu.
Ada ulama yang menghukumi haram bila datang. Bahkan ulama lain yang memberi hukum murtad. Karena mengikuti ritual agama lain. Yang mana agama itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Bahkan ada pembacaan syahadat ala orang non muslim –Credo 12 yang berisi 12 poin. Sehingga menyebabkan muslim yang hadir menjadi murtad tanpa disadari. Bahkan makan dari makanan yang dihidangkan juga dihukum haram. Maka harus dihindari.
Adanya acara Gus Dur dan Kang Said yang memberi pengajian di acara Natal Gereja karena pelaksanaannya dilakukan sebelum acara di mulai. Jadi tidak mengikuti acara. Itu tidak terbilang mengikuti ritual. Diundang untuk memberi pencerahan keagamaan.
Akhirnya kita harus hati-hati dalam memaknai toleransi. Toleransi memang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hanya tafsirnya harus tahu. Sehingga prakteknya pas. Tidak melanggar akidah. Akidah terjaga dan toleransi berjalan. Sungguh nyaman. Lha, untuk ini diperlukan ilmu. Ternyata ilmu sangat penting dalam kehidupan. Wallahu a’lam bi al shawab.
Solichul Hadi,S.Ag.,M.Pd.10:560 komentar
                Menurut saya hari natal yakni hari besar bagi umat nasrani, kita sebagai umat muslim harusnya saling menghargai dan menghormati antara sesama mahluk walaupun agama mereka berbeda, di indonesia di bentuk berbagai latar belakang agama, ras, suku, bahasa daerah, adat dan luasnya wilayah oleh sebab itu kita harus saling menghormati pemeluk agama lain untuk melaksanakan ritualnya masing-masingtanpa takut di ganggu dan di usik.
          Utuk GP ansor yang setiap hari natal menjaga gereja sebenarnya tidak perlu di permasalahkan karena itu merupakan toleransi yang bertujuan agar tidak ada perpecahan antara warga negara yang satu dan yang lain. Sehinnga kita dapat bertolernsi antara warga negara dengan baik.

Desakralisasi Suro...


Bulan Muharam adalah bulan pertama dalam penanggalan Islam. Penanggalan ini dimulai oleh Khalifah Umar bin Khattab dengan patokan mulai hijrah Kanjeng Nabi dari Mekkah ke Madinah. Ketentuannya menggunakan peredaran bulan. Jadi berbeda dengan sistem penanggalan masehi yang berdasar peredaran matahari.
Pada bulan ini banyak sekali peristiwa besar terjadi. Misalnya peristiwa di bakarnya Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud namun tidak terjadi apa-apa. Dikeluarkannya Nabi Adam dan Ibu Hawa dari surga. Lalu bertemu lagi di Arafah. Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan, Nabi Ayub AS kembali sehat dari cobaan sakit yang parah, kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun. Dan masih banyak lagi yang lain.
Untuk menyatukan tanah Jawa Raja Mataram Sultan Agung Anyokrokusumo membuat penanggalan Jawa sama dengan sistem penanggalan Islam. Hanya nama bulan yang diganti dengan Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo, dan Besar. Sedang tahunnya meneruskan tahun saka yang sedang berjalan.
Adanya penanggalan Jawa ini adalah upaya strategis dan karya besar pula yang perlu dicatat dalam sejarah. Karena sangat terjadi seperti ini kalau tidak ada visi besar dalam suatu kerajaan. Ada hal lain yang diterima yakni memudahkan penanggalan menjadi satu sistem dalam satu wilayah kerajaan.
Dalam ajaran agama seluruh bulan dipandang sama. Memang ada beberapa bulan yang mempunyai nilai lebih seperti Rajab, Ramadhan, Dzulhijjah namun tidak ada diskriminasi bahwa selain bulan tersebut membawa sial dan tidak ada keberuntungan. Misalnya di bulan Suro masyarakat Jawa masih ada yang menghindari bila mempunyai hajat, mendirikan rumah, membuka usaha, bepergian, keputusan strategis lainnya. Karena dianggap bisa membawa malapetaka pada diri dan keluarga. Kemudian juga pada bulan ini banyak yang memandikan pusaka.
Namun saya melihat akhir-akhir ini banyak yang mulai berani merubah pakem orang Jawa tersebut. Diantaranya berani mengadakan hajatan mantu atau khitanan pada bulan Syuro. Para developer dalam membangun perumahan sudah tidak melihat bulan dan hari bila sudah ada yang pesan ya dibangun. Karena dalam bisnis siapa yang lebih dahulu dan servise yang memuaskan akan dicari pelanggan. Bahkan ada salah satu dosen saya Dr. H. Isrofil Amar yang juga Ketua PC Nahdlatul ‘Ulama Jombang yang menikahkan salah seorang putranya pada bulan Suro ini dan tidak ada apa-apa. Bahkan katanya lancar dan banyak yang datang. Karena baru ada satu hajatan pada bulan tersebut.
Adanya larangan tepatnya pengalaman dari orang-orang tua dulu atau juga katanya ada primbon tertentu yang menceritakan hal itu kemudian masih ada orang  yang mempercayai memang hal-hal yang sah-sah saja. Cuma tidak boleh sampai membawa-bawa akidah karena memang adanya alam semesta ini beserta penanggalannya untuk keselamatan dan kebahagian manusia. Tinggal manusia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bi al shawab.




Solichul Hadi,S.Ag.,M.Pd.10:540 komentar
Dalam artikel tersebut menurut saya orang-orang pada zaman terdahulu atau orag jawa memandang bahwasanya bulan suro itu bulan sial, atau bisa di sebut banyak musibah datang yang atau menimpanya sehingga para orang terdahulu takut akan melakukan hajatan seperti membangun rumah. Usaha dagang dll. Pada hal bulan suro tersebut tidak seperti yang ada fikiran mereka.
Pada hal sebenarnya bulan syura adalah bulan yang baik, apalagi waktu tanggal 10 suro yang sering di sebut bulan syaklar. Mungkin orang-orang jawa berpendapat bahwa bulan suro itu sial karena setiap tanggal 10 suro banyak pendekar yang mencuci keris, mungkin dari situ orang dulu berpendapat kalau bulan suro adalah bulan yang tidak seperti bulan lainya.
Padahal ajaran agam seluruh bulan di anggap sama tidak ada bulan yang sial, memang ada beberapa bulan yang memiliki nilai lebih yakni antara lain: bulan rajab, ramadhan dan dzulkijah.
Setidaknya kita sebagai mahasiswa yang memiliki pengetahuan lebih sebaiknya jangan percaya akan hal seperti itu karena sesungguhnya allah menciptakan bulan tidak ada yang sial dan semua sama.
 diri kita adalah suatu cobaan yang di turunkan kepada kita tinggal bagaimana kita menghadapinya. Jangan sekali-kali kita lari dari masalah tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar